Friday, 20 April 2012

Sahabat aku menyayangimu, kamu mengecewakanku

History ini mungkin bukan hanya di dunia fiksi belaka, tapi ini sudah sangat terjadi di kehidupan nyata, kehidupan yang sehari-hari dipenuhi drama kebohongan, kebusukan, dan cinta.

awalnya kita menyadari kita sejalan, kita satu pikiran, kita menyebutkan hubungan kita sebagai teman dekat (sahabat) . yakin, kita udah sepaket? kepala ini masing-masing mempunyai pikiran yang berbeda, mungkin sekarang kita sejalan, kita berhubungan baik, hari dipenuhi tawa riang, sedih bersama. aku sangat menyayangi kamu sebagai sahabatku.
aku menceritaka semua hal yang orang lain tidak ketahui, karena aku mempercayaimu. aku menyayangimu karena, kamu laya untuk disayang sebagai teman. teman yang selalu ada di saat aku jatuh.

semua bermulai indah. tiada hari tanpa riuhnya tawa yang menggelegarkan dunia. jalanan ibu kota sudah kita habisi bersama-sama. manis-asamnya masa perkuliahan kita panggul bersama.
tapi seketika kamu hancurkan segala apa yang aku rasa sama terhadap kamu sahabat ku. kamu menghancurkan perasaan, saat kamu tidak mempercayaiku lagi, saat kamu mulai menyodoriku dengan hal yang tidak aku lakukan sama sekali.

kamu mulai mengeluarkan sikap tidak suka akan pasangan laki-laki ku,
apa yang harus aku lakukan, disaat aku yang sudah merasa sangat mengenalmu, kamu hancurkan dengan segudang tuduhan sampah, yang kamu sendiri hanya tau dari orang lain yang mengada-ada kan itu. kamu mendewakannya sehingga kamu lebih mempercayai dia, dibandingkan aku.

aku mulai merasa gerah sama semuanya, aku mulai merasa diperbudak akan perasaan baikku sendiri.

aku berontak---,
aku bangun, dan aku coba untuk mengeluarkan "aku tidak menyukaimu lagi, aku tidak ingin memanggilmu dengan sebutan SAHABAT" .... itu semua hanya membeku didalam, tak bisa kusampaikan, satu huruf pun aku merasakan itu berat, dan akan melukai hatinya.

aku biarkan kamu terus berpandangan seperti itu kepadaku, teruslah kamu dewakan dia, orang-orang terkutuk yang tidak berpikiran jernih. orang-orang yang berpendidikan tapi tidak mencerminkan bahwa ia berpendidikan.

jujur aku kecewa dan meratapi kekecewaanku, walau hanya diam, tapi aku puas.
MUNAFIK terhadapmu itu bukan masalah menurutku.

Bukankah sahabat harus mengerti, mempercayai, dan membantu.
kalau kamu saja sudah tidak mempercayai untuk apa kamu aku sebut sebagai sahabat ku...

aku hanya berpesan agar semoga kamu bisa hidup tenang dengan mendewakannya.

No comments:

Post a Comment